Belajar “Kembali Hidup” dari Film Soul
“Eh, kok filmnya mirip film Inside Out yah..”
Seketika aku bergumam sendiri saat nonton film yang dirilis oleh Disney dan Pixar yang berjudul Soul
Ternyata emang sutradara dari kedua film ini sama.
Film berjudul Soul membuatku tertarik oleh dua pemeran, yaitu sosok Joe yang merupakan pemeran utama dalam film tersebut, dan 22 (re: twentytwo) sebagai pemeran pembantu.
Sosok Joe mengajarakan bahwa apa yang sebenrnya kita kejar itu hanya ambisi semata untuk mendapatkannya. Setelahnya, hidup akan kembali seperti biasanya. Saat itu Joe sangat gembira karena cita-citanya selama ini untuk menjadi bagian dari grup musik jazz terkenal akhirnya terwujud. Namun setelah manggung perdana, rasanya biasa saja. Esok hari Joe manggung lagi, dia pikir rasanya akan berbeda, nyatanya sama saja.
Joe melakukan berbagai cara agar jiwanya dapat kembali ke tubuhnya di dunia setelah sempat terpisah lantaran kecelakaan yang dialaminya beberapa jam sebelum pentas musik jazz nya itu berlangsung. Joe bahkan sempat melakukan kecurangan dan sampai merenggut hak turun ke bumi jiwa 22. Dan setelah berhasil melaksanakan pentasnya, Joe tersadar bahwa apa yang sebenarnya dia kejar bukan tujuan dari hidupnya.
Disisi lain, 22 merupakan jiwa yang hilang akan tujuan hidupnya. 22 merasa tidak ada yang perlu dikejar di dunia, tidak ada yang pantas untuk dilakukan, bahkan dia merasa tidak ada yang menginginkannya di dunia. Sehingga 22 merasa nyaman di alam The Great Before dan tidak ingin turun ke bumi.
22 memberikan pelajaran bahwa kehidupan tidak sekeras apa yang ada di alam pikiran kita. Bahkan yang bisa mematikan kita hanyalah pikiran dan emosi negatif dalam diri kita. Padahal kehidupan cukup menyenangkan dengan dapat merasakan nikmatnya sepotong pizza, mencium aroma masakan, menikmati angin berhembus dan dedaunan yang satu per satu berjatuhan.
Komentar
Posting Komentar